TOTABUAN.CO KOTAMOBAGU —Gelombang krisis yang sempat melumpuhkan roda ekonomi penambang emas tradisional di Bolaang Mongondow Raya (BMR) kini mulai menunjukkan titik terang, setelah kehadiran sosok yang disebut mampu membuka kembali jalur distribusi dan penjualan hasil tambang rakyat.
Sebelumnya, ribuan penambang di wilayah Bolaang Mongondow Timur dan sekitarnya terjebak dalam situasi sulit, emas tersedia, namun tak memiliki nilai jual akibat berhentinya aktivitas pembelian oleh pengepul karena kekhawatiran terhadap penindakan hukum.
Kondisi tersebut membuat ekonomi masyarakat tambang nyaris lumpuh. Aktivitas penambangan tetap berjalan, namun hasilnya hanya menumpuk tanpa bisa dikonversi menjadi kebutuhan pokok, memperparah tekanan ekonomi terutama di tengah meningkatnya kebutuhan hidup.
Di tengah kebuntuan itu, kehadiran sosok GRL disebut membawa angin segar bagi para penambang. Figur ini dinilai mampu menjembatani kembali rantai distribusi emas rakyat yang sempat terputus, sekaligus memulihkan kepercayaan para pelaku pasar terhadap transaksi hasil tambang tradisional.
Seiring mulai bergeraknya kembali aktivitas jual beli, harapan para penambang perlahan tumbuh. Mereka kini kembali memiliki peluang untuk menghidupi keluarga dari hasil kerja harian, setelah sebelumnya berada di ambang ketidakpastian berkepanjangan.
Meski demikian, sejumlah pihak menilai solusi jangka panjang tetap diperlukan, terutama melalui kejelasan regulasi seperti legalisasi pertambangan rakyat dan kepastian hukum dalam tata niaga emas, agar krisis serupa tidak kembali terulang di masa mendatang. (*)





