TOTABUAN.CO BOLSEL – Kasus dugaan penganiayaan terhadap Revan Kurniawan Santoso alias Aan yang menyeret nama kader Partai NasDem Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Marsel Aliu, semakin memanas. Keluarga Aan menegaskan tidak akan tinggal diam. Selain akan melaporkan ke Polda Sulut, juga akan melaporkan Marsel ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem.
Langkah ini ditempuh, karena keluarga menduga ada keterlibatan Marsel sebagaimana disampaikan langsung oleh Aan dalam rekaman video sebelum meninggal dunia.
Yang membuat hati keluarga dan masyarakat tidak terima, status Marsel di media sosial setelah kasus mencuat juga dinilai memperkeruh suasana dan melukai perasaan keluarga dan warga.
“Ini bukan persoalan sepele. Ada dugaan penganiayaan yang dialami Aan. Lebih parah lagi, muncul status di media sosial yang jelas-jelas menyakitkan hati keluarga. Kami tidak bisa tinggal diam,” tegas salah satu anggota keluarga, Minggu 31 Agustus 2025.
Menurut keluarga, sikap Marsel sebagai anggota DPRD sangat mengecewakan. Sebagai wakil rakyat, ia seharusnya menunjukkan empati dan menjaga sikap, terutama di ruang publik. Namun malah sebaliknya, tindakan dan ucapannya dinilai merusak kepercayaan masyarakat serta mencederai nama baik partai.
Keluarga meminta DPP NasDem bersikap lebih peka terhadap kasus yang terjadi di daerah. Jangan sampai perhatian besar hanya diberikan kepada kader di tingkat pusat, sementara persoalan serius di daerah diabaikan.
“Kalau Sahroni dan Nafa Urbach bisa dicopot karena persoalan etika, kenapa Marsel tidak. DPP harus peka. Jangan sampai ada standar ganda dalam menegakkan aturan. Kami minta keadilan ditegakkan dengan konsisten,” katabTaufik Panua salah satu kuasa hukumnkeluarga Aan.
Pengamat politik menilai, kasus ini menjadi ujian penting bagi NasDem. Konsistensi partai dalam menindak kader bermasalah akan menentukan citra dan kepercayaan publik, apalagi di tengah situasi politik nasional yang tengah bergejolak akibat demonstrasi besar-besaran dan pencopotan dua anggota DPR oleh DPP. (*)