TOTABUAN.CO BOLMONG — Derasnya arus sungai akibat hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan Jembatan Pindol di Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), putus total. Peristiwa tersebut membuat akses utama dari wilayah Dumoga Raya menuju Desa Totabuan terputus dan aktivitas masyarakat terganggu.
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Lolak dan sekitarnya memicu meningkatnya debit air sungai secara drastis. Arus yang sangat kuat kemudian menghantam Jembatan Pindol hingga struktur jembatan tidak mampu menahan tekanan air dan akhirnya roboh.
Putusnya jembatan tersebut langsung memutus jalur penghubung menuju Desa Totabuan. Selama ini, jembatan tersebut menjadi akses vital yang digunakan masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari.
Tak hanya warga sekitar, sejumlah masyarakat dan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari wilayah Dumoga Raya juga terdampak. Mereka kini terpaksa memutar perjalanan melalui jalur Kotamobagu–Kaiya untuk bisa mencapai tujuan.
Akibat putusnya jembatan, masyarakat Desa Totabuan praktis terisolir. Warga tidak dapat lagi melintasi jalur tersebut karena kondisi jembatan sudah tidak memungkinkan dilalui kendaraan.
Beberapa warga yang berada di sekitar lokasi kejadian menyebutkan, derasnya arus sungai terjadi setelah hujan mengguyur kawasan tersebut cukup lama.
Air sungai yang meluap kemudian menghantam bagian bawah jembatan hingga akhirnya meruntuhkan konstruksi bangunan tersebut.
Kondisi ini tentu berdampak besar bagi kehidupan masyarakat. Selain menghambat mobilitas warga, putusnya jembatan juga berpotensi mengganggu arus lalu lintas menuju pusat ibu kota Kabupaten Bolaang Mongondow.
Masyarakat pun berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk menangani kondisi darurat ini. Warga berharap ada solusi sementara, seperti pembangunan jembatan darurat atau pembukaan akses alternatif, agar aktivitas masyarakat tidak lumpuh terlalu lama.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. Curah hujan yang masih tinggi dikhawatirkan dapat memicu banjir susulan dan memperparah kondisi di sekitar aliran sungai.
Sementara itu, Kepala UPTD Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Sulawesi Utara, Lucky Sugeha, mengatakan pihaknya sebenarnya telah beberapa kali melakukan penanganan sementara di lokasi tersebut.
Menurut Lucky, pihaknya sudah empat kali melakukan penimbunan di area sungai. Namun, hujan deras yang kembali turun menyebabkan banjir yang menghanyutkan material yang telah dipasang.
“Ada tanah perkebunan warga yang dipinjamkan, akan kami bangun sebagai akses jalan sementara,” ujar Lucky.
Peristiwa putusnya Jembatan Pindol ini kembali menjadi pengingat pentingnya infrastruktur penghubung antarwilayah. Ketika akses utama terputus, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama di daerah yang sangat bergantung pada satu jalur transportasi utama. (*)





