TOTABUAN.CO POLITIK —Pertarungan menuju kursi Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Utara (Sulut) kian terbuka jelang Musyawarah Daerah (Musda) yang akan digelar Sabtu, 11 April 2026 di Novotel Manado Golf Resort & Convention Center. Ratusan kader dari seluruh kabupaten/kota dipastikan hadir dalam forum strategis tersebut.
Dua nama mengerucut sebagai kandidat kuat: Michaela Elsiana Paruntu (MEP) dan Tonny Hendrik Lasut (THL). Keduanya bukan sekadar figur populer, melainkan representasi dua kekuatan besar yang kini saling mengunci dalam perebutan dukungan struktural partai.
Di tengah memanasnya persaingan, perhatian justru tertuju pada wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR). Basis suara di kawasan ini dinilai bisa menjadi penentu arah akhir Musda. Namun hingga kini, sikap resmi DPD II masih belum diumumkan.
Ketua DPD II Golkar Bolmong Aditya Anugerah Moha melalui Sekretaris Fadli Simbuang menegaskan bahwa pihaknya belum berpihak ke salah satu kandidat.
“Kami masih objektif. Dinamika internal terus kami cermati, termasuk konstelasi dukungan di tingkat DPD kabupaten/kota. Semua masih sangat cair,” tegas Fadli.
Ia juga menegaskan bahwa Golkar Bolmong akan tetap berada dalam garis komando Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Artinya, keputusan akhir sangat bergantung pada arah politik pusat, bukan semata dinamika daerah.
Di sisi lain, perang klaim dukungan semakin terbuka. Ketua DPD I Golkar Sulut Cristiany Euginia Paruntu (CEP) menyatakan MEP telah mengantongi dukungan mayoritas dari 14 DPD kabupaten/kota. Klaim ini menjadi sinyal kuat bahwa MEP berada di atas angin.
Namun kubu THL tidak tinggal diam. Tonny Hendrik Lasut disebut juga telah mengamankan dukungan signifikan, bahkan diyakini mampu mematahkan dominasi yang diklaim kubu MEP. Kondisi ini membuat peta kekuatan sulit diprediksi.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa Musda kali ini bukan sekadar ajang konsolidasi, melainkan pertarungan terbuka antar faksi di tubuh Golkar Sulut. Setiap suara DPD II menjadi krusial, dan potensi “last minute swing” sangat mungkin terjadi.
Kehadiran Ketua Umum Bahlil Lahadalia dalam Musda nanti juga dipandang sebagai faktor penentu. Arah restu DPP diyakini bisa mengunci hasil akhir, sekaligus meredam potensi konflik pasca pemilihan.
Dengan konfigurasi yang masih cair, satu hal yang pasti: Musda Golkar Sulut 2026 akan menjadi salah satu kontestasi internal paling panas dalam beberapa tahun terakhir. (*)





