TOTABUAN.CO BOLSEL — Nama Marsel Aliu, anggota DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) dari Partai NasDem, kini menjadi sorotan publik. Politikus dikenal aktif di panggung politik lokal itu, kini justru dikaitkan dengan kasus kekerasan yang berujung pada kematian tragis seorang pemuda, Revan Kurniawan Santoso alias Aan (20), warga Desa Sondana.
Kasus ini tak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga membuka tabir baru soal dugaan keterlibatan kekuasaan dalam tindak kekerasan.
Sebelum meninggal, Aan sempat memberikan pernyataan mengejutkan kepada wartawan. Dalam sebuah video yang kini beredar luas di media sosial, Aan menyebut langsung nama Marsel Aliu saat menjelaskan motif pemukulan yang ia alami.
“Karena korban keponakannya anggota dewan Marsel Aliu,” ucap Aan dengan suara lemah dalam video tersebut.
Pernyataan itu menjadi titik balik dalam proses penyelidikan. Dari sekadar kasus penganiayaan biasa, kini bergeser menjadi persoalan serius yang menyeret seorang wakil rakyat ke pusaran hukum.
Bukan hanya ucapan Aan yang menjadi bahan penyelidikan. Keluarga korban mengungkap bahwa sejumlah unggahan Marsel Aliu di media sosial ikut memperkuat dugaan keterlibatannya. Status, komentar, bahkan tanggapan bernada ancaman terhadap Aan kini telah dikumpulkan sebagai barang bukti. Unggahan tersebut dianggap tidak hanya memperkeruh suasana, tetapi juga bisa dianggap sebagai pemicu aksi kekerasan.
“Komentar-komentar di medsos itu sangat tidak etis bagi seorang anggota DPRD. Sangat mengecewakan,” kata salah satu anggota keluarga Aan.
Sebagai figur publik, Marsel Aliu seharusnya memberi contoh etika, bukan justru menjadi bagian dari polemik. Banyak pihak menilai pernyataan-pernyataan Marsel, baik di dunia nyata maupun digital, tidak mencerminkan sikap seorang pejabat daerah.
Aktivis HAM dan pengamat hukum menilai, keterlibatan Marsel, meski masih dalam tahap dugaan, harus diusut secara transparan. Tidak boleh ada kekebalan hukum hanya karena seseorang menjabat sebagai anggota dewan.
“Jika memang terbukti, Marsel harus bertanggung jawab secara hukum dan etika. Wakil rakyat tidak boleh merasa kebal,” ujar seorang pengamat hukum dari Universitas Sam Ratulangi.
Pihak keluarga Aan menyatakan akan segera melaporkan Marsel Aliu secara resmi ke Polda Sulut. Langkah ini diambil karena mereka menilai proses di tingkat lokal tidak akan maksimal, terlebih dengan adanya dugaan intervensi kekuasaan.
Sementara itu, Marsel Aliu hingga saat ini belum memberikan klarifikasi langsung terkait tuduhan tersebut. Namun tekanan publik terus meningkat, menuntut agar politisi Partai NasDem itu angkat bicara.
Marsel Aliu kini berdiri di tengah pusaran besar: antara pembelaan diri dan tuntutan publik. Satu hal yang pasti rakyat Bolsel, dan keluarga Aan khususnya, menuntut keadilan ditegakkan tanpa kompromi.
Hingga berita ini diturunkan, Marsel Aliu belum memberikan pernyataan resmi atas tuduhan yang diarahkan padanya. Kendati demikian, redaksi masih akan menungguh dan berupaya tanggapan jejak digital sang wakil rakyat dan soal dugaan dirinya di pusaran tragedi Aan. (*)