Komisi VIII Akan Tindak Lanjuti Temuan BPK di Sulut

istimewa | totabuan.co

 

istimewa | totabuan.co
istimewa | totabuan.co

Dalam laporan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), diketahui ada beberapa ketidaksesuaian atas penyaluran Bantuan Sosial (Bansos) yang dilakukan oleh mitra kerja Komisi VIII. Kementerian Sosial misalnya, ada sembilan temuan yang belum ditindak lanjuti dengan total nilai sekitar 1,7 Miliar.

Bacaan Lainnya

Salah satunya adalah belum adanya rekonsiliasi antara Kementerian Sosial dengan PT POS terkait  dengan  penyaluran bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM).

Sedangkan BNPB ditemukan sekitar 134 temuan dengan 125 ketidak sesuaian yang belum ditindak lanjuti.  Salah satunya  adalah  pengelolaan dan pertanggung jawaban keuangan Dana Bantuan Pasca Bencana tahun Anggaran 2010 pada  BNPB dan instansi terkait lainnya di Jakarta, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Jambi, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara.

“Untuk Kementerian Agama misalnya ada sekitar 16 temuan yang belum di tindak lanjuti, namun ada juga yang sudah di tindak lanjuti  bahkan  sudah  diberikan sanksi  baik  olek  kementerian  yang  bersangkutan  maupun  oleh  KPK.  Seperti program pengadaan kitab suci Al Quran dan program pengadaan laboraturium komputer yang sudah  ditetapkan  tersangkana,” jelas Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Sayed Fuad Zakaria.

Ditambahkan Sayed, menanggapi hasil temuan BPK atas ketidaksesuaian programBansos tersebut,  di awal masa persidangan mendatang  Komisi  VIII akan  langsung melakukan  rapat  kerja  dan  mengevaluasi  temuan  tersebut,  dengan  Kementerian  terkaitdan  mitra  kerja  Komisi  VIII  lainnya,  termasuk  dengan  BNPB.  Bahkan  jika  kemudian  ada indikasi  penyelewengan  program  bansos, pihaknya tidak akan  segan-segan  untuk melaporkannya  kepada  pihak  berwajib  dan KPK.

“Kita ingin tahu apa temuan-temuan  tersebut  sudah  ditindaklanjuti,  bansos  itu  kemanasasarannya,  siapa-siapa  saja  yang  menerima  bansos  tersebut.  Jika  Bansos  itu diberikan  pada  Pondok  Pesantren  atau  sekolah  mana,  maka  Pondok  pesantren  mana saja  yang menerima bansos tersebut. Hal ini semata-mata  agar program yang  muliaini  jangan sampai salah sasaran,” tambahnya. (Ayu)

Sumber : dpr.go.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses