Menu

Lokasi Tak Aman Lagi, Proses Evakuasi Korban Tambang Bakan Dihentikan

  Dibaca : 85 kali
Lokasi Tak Aman Lagi, Proses Evakuasi Korban Tambang Bakan Dihentikan
Konfrensi Pers Pengehtian evakuasi korban tambang bakan

TOTABUAN.CO BOLMONG – Tim SAR Gabungan terpaksa menghentikan proses pencarian korban yang tertimbun ambruknya tambang ilegal yang ada di Desa Bakan Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).

Direktur Operasional Basarnas Brigjen TNI (Mar) Budi Purnomo mengatakan, proses pencarian korban ambruknya lokasi tambang dihentikan karena lokasi tak aman lagi.

“Dengan pertimbangan karena kondisi goa sudah tidak aman lagi. Maka sejak tadi pagi tidak lakukan pencarian lagi,” ujar Brigjen TNI (Mar) Budi Purnomo saat memberikan keterangan pers Kamis (7/3/2019).

Dia menjelaskan, selama propses evauasi sudah ada 45 kantong jenasah yang berhasil dievakuasi. Dari 45 kantong itu, ada 18 jenazah.

“Jadi dari 45 kantong jenazah, 27 orang meninggal,” jelasnya:

Dara itu lanjut cocok dengan laporan masyarakat terkait dengan laporan orang hilang yakni 22 orang.

Menurutnya, proses evakuasi sudah sampai pada dasar goa tambang. Namun kondisi sangat tidak memunginkan karena terjadi retakan.

“Jadi sejak tadi pagi kita sudah tidak lagi melaksanakan kegiatan kecuali konsolidasi dan mengecek,” tambahnya.

Pihak PT J Resources perusahan sendiri mengatakan, dari hasil pemeriksaan di lokasi, ada kemungkinan terjadi longsor susulan di tebing bagian atas karena sudah ada retakan.

Namun sebelumnya telah terjadi longsor karena proses evakuasi telah menggali sedalam Enam meter.

Posisi timbunan saat ini telah melebihi sampai ke level Tujuh meter. Jadi kalau posisi sekarang, tinggi timbunan sudah melewati tinggi alat berat.

Sementara dari Tim Disaster Victim Identification (DVI) Postmortem Polda Sulawesi Utara (Sulut) membeberkan, dari dua posko yang dibuka yakni Pokso orang hilang dan posko identifikasi hingga hari ini jumlah yang melapor berjumlah 22 orang yang hilang.

Ketua tim Post Mortem tim DVI Polda Sulut dr Paula Lihawa MforSc, mengatakan sejak hari pertama tim DVI menerima 20 kantong jenazah. Dari 20 kantong jenazah itu, 13 orang teridentifikasi positif melalui berbagai tanda khas pada tubuh dan sidik jari.

Lima kantong tidak teridentifikasi berupa satu jenazah utuh dan empat potongan tubuh. Sedangkan masih ada dua kantong yang dalam proses identifikasi tim di RS Pobundayan.

“Jadi dari 22 laporan orang hilang, 13 orang teridentifikasi positif meninggal. Dari tujuh laporan sisa belum ada yang positif. Satu laporan ternyata ditemukan hidup satu lagi dilaporkan meninggal tapi langsung dijemut pihak keluarga tanpa melewati Posko Postmortem,” jelas dr Paula Lihawa.

Dia mengatakan, jika ada pihak keluarga yang merasa ada anggota keluarga yang hilang, segera melapor ke Urkes Bolaang Mongondow dan berkoordinasi ke Dinas Capil.

Soal status tanggap darurat Direktur Operasional Basarnas Brigjen TNI (Mar) Budi Purnomo sendiri bahwa, dengan pertimbangan keselamatan tim SAR Gabungan maka pada hari ini, operasi SAR Gabungan proses evakuasi korban tambang dinyatakan ditutup. Dan masih akan dilakukan operasi rehabilitas dilanjutkan oleh tim SAR dari Manado bersama institusi lainnya.

Sementara Bupati Bolmong Yasti Soepredjo Mokoagow sendiri belum memberikan keterangan lebih jauh. Menurutnya masih akan melakukan rapat koordinasi dengan Forkopimda untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Saya belum bisa memutuskan secara sendiri. Nanti akan ada rapat dengan Forkopimda,” kata Bupati. Dengan demikian, proses evakuasi dinyatakan ditutup dan tinggal akan dilanjutkan dengan operasi rehabilitas.(**)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional