Menu

Jainuddin: Kekisruhan di Acara Resepsi, Karena Saya Dibuat Malu

  Dibaca : 128 kali
Jainuddin: Kekisruhan di Acara Resepsi, Karena Saya Dibuat Malu
Jainuddin Damopolii

TOTABUAN.CO KOTAMOBAGU –Kekisruhan yang terjadi antara Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong) Yasti Soepredjo Mokoagow dan mantan Wakil Walikota Kotamobagu Jainuddin Damopolii yang terjadi di gedung Sitti Barokah saat acara resepsi pernikahan Minggu (6/1), terus menjadi pro kontra dan masih menjadi pembicaraan hangat.

Bahkan muncul kabar, jika persoalan tersebut akan dilaporkan pihak Bupati Bolmong Yasti Soepredjo Mokoagow ke pihak Kepolisian.

Namun hal itu ditangapi santai oleh Jainuddin. Menurutnya, peristiwa itu terjadi karena saya merasa dipermalukan di hadapan orang bahkan para tamu.

“Sebetulnya saya tak akan merespon. Cuma harga diri saya telah diinjak oleh yang bersangkutan (Yasti) dengan maksud menagih hutang di hadapan tamu dan keluarga,” kata Jainuddin.

Merasa dipermalukan, sontak saja timbul reaksi. Jainuddin mengaku berdiri hendak bertanya apa maksud dari tindak tersebut. Namun keributan tidak dapat terelakan, sehingga hajatan yang tadinya berjalan lancar menjadi keributan.

Hadir dalam acara resepsi itu sejumlah kepala daerah dan pejabat. Seperti Wakil Bupati Bolmut Amin Lasena, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Manado Leksi Mamonto, Istri Bupati Boltim Nursiwin Landjar Dunggio serta anggota DPRD Provinsi Sulut Muslimah Mongilong dan Ketua Pengadilan Negeri Bitung.

“Di depan para pejabat, saya merasa di hina. Jadi saya juga rencana akan melaporkan Yasti ke pihak berwajib. Pak Amin Lasena sebagai saksi. Bahkan tokoh-tokoh adat dan keluarga yang punya hajat, juga akan menemui DPRD Bolmong untuk minta pertanggung jawaban Yasti selaku pemangku adat yang telah melanggar adat dengan memicu keributan pada hajatan masyarakat,” ujar Ketua DPD II PAN Kotamobagu ini.

Konon kisruh yang terjadi itu dikarenakan soal hutang piutang. Di mana kabar beredar bahwa mantan Wakil Walikota Kotamobagu periode 2013-2017 Jainuddin Damopolii memiliki hutang kepada Bupati Bolmong Yasti Soepredjo Mokoagow saat maju di Pilkada Kotamobagu pada 2013 saat berpasangan dengan Tatong Bara.

Namun menurut Jainuddin, soal rumor hutang piutang, itu tidak pernah ada. Bahkan tidak pernaha terjadi serah terima uang seperti yang diberitakan sejumlah media.

Jainuddin Ingkar Janji ?

Di hadapan para wartawan, Bupati Bolomong Yasti Soerpedjo Mokoagow didampingi Walikota dan Wakil Walikota Tatong Bara-Nayodo Koerniawan menjelaskan awal mula mengapa hingga Jainuddin Damopolii berpasangan dengan Tatong Bara maju sebagai Calon walikota dan calon wakil wali kota di Pilkada Kotamobagu 2013 silam.

Bupati Bolmong Yasti Soepredjo Mokoagow didampingi Walikota dan Wakil Walikota Kotamobagu saat memberikan dihadapan para wartawan

Bahkan saat akan mencalonan diri maju sebagai calon wakil walikota, Jainuddin tidak memiliki modal apa-apa. Janji katanya punya dana 2.5 Miliar, hingga hari pelaksanaan pemungutn suara, tidak pernah direalisasikan. Malahan bermohon untuk meminta pinjaman uang.

Hal itu dikatakan Yasti kepada wartawan untuk menjelaskan, awal mula mengapa hingga terjadi permintaan dana 2.5 Miliar.

Menurut mantan Ketua Komisi V DPR RI ini, saat memasuki Pilkada Kotamobagu 2013, Jainudin sendiri bermohon untuk dipasangankan dengan Tatong Bara sebagai calon wakil wali kota waktu itu.

“Dia (Jainuddin red), sempat beberapa kali datang ke rumah saya di Winangun Manado dan meminta agar dipasangkan dengan Ibu Tatong,” kata Yasti.

Janji punya modal 2.5 Miliar tak kunjung diserahkan. Yang ada malah meminta pinjaman 500 Juta kata Yasti.

Pertarungan di Pilkada 2013 silam ada empat pasangan calon yang maju. Termasuk petahana Walikota Kotamobag Djelantik Mokodompit berpasangan dengan Rustam Simbala yang diusung koalisi partai yakni Golkar dan PDIP.

Bagi Yasti, untuk mengalahkan seorang incumbent atau petahana sekelas Djelantik Mokodompit, tentu butuh strategi serta kekuatan finansial untuk akomodasi dan operasional tim yang tersebar di 33 desa dan kelurahan.

Namun hingga hari H lanjut Yasti, janji 2.5 miliar sebagai modal bersama tidak kunjung ada. Sebagian besar akomodasi serta operasional menjadi tanggungan mereka.  Yang ada hanya tiga buah sertifikat yang dianyar langsung Jainuddin bersama surat pernyataan pinjaman 2 miliar.

“Jadi bagi saya ini bentuk dari ingkar janji. Sebab hingga selesai pilkada uang 2.5 miliar tak kunjung tiba. Makanya saya tantang untuk sumpha pocong. Supaya membuktikan, bahwa siapa yang berdusta sebenarnya,” kata Yasti.

Penulis: Hasdy

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional