Menu

Soal Larangan Minyak Goreng Curah, Pedagang-Konsumen di Kotamobagu Belum dapat Info

  Dibaca : 35 kali
Soal Larangan Minyak Goreng Curah, Pedagang-Konsumen di Kotamobagu Belum dapat Info
Pelarangan Minyak Goreng Curah jadi Pro Kontra di Masyarakat. (f-rez/tco)
Pelarangan Minyak Goreng Curah jadi Pro Kontra di Masyarakat. (f-rez/tco)

Pelarangan Minyak Goreng Curah jadi Pro Kontra di Masyarakat. (f-rez/tco)

TOTABUAN.CO KOTAMOBAGU – Aturan mengenai pelarangan edar dan jual beli minyak goreng curah di pasar mulai Maret 2016 oleh pemerintah pusat belum banyak diketahui masyarakat mau pun pedagang di Kota kotamobagu. Sejumlah pelaku usaha minyak goreng curah mengaku belum ada informasi resmi dari pemerintah.

“Kalau di pasar ini belum ada sosialisasinya dari Pemkot Kotamobagu, jadi masih beredar seperti biasa. Saya juga belum tahu, justru baru dengar sekarang,” kata Ridwan, pedagang sembako di Pasar 23 Maret. Jumat (5/2).

Menurut dia, penjualan minyak goreng curah juga tidak menunjukkan perubahan. “Penjualan masih biasa. Sebagian besar orang juga kayaknya belum tahu. Kalau memang dilarang, awalnya pasti ada pengaruh ke penjualan, tetapi kayaknya tidak akan lama, karena minyak itu kebutuhan pokok,” tuturnya, sore tadi.

Pengusaha sembako yang lain yang ada di Pasar Serasi, Mama Acel, mengatakan informasi mengenai pelarangan edar minyak goreng curah baru dia ketahui dari pemasok minyak goreng curah. Dia beranggapan, aturan tersebut masih simpang siur karena tidak ada sosialisasi dari pemerintah.

“Masih kabar-kabar saja, belum ada informasi resmi dari pemerintah. Kalau memang benar, alternativnya seperti apa juga belum tahu. Kalau minyak curah enggak ada, minyak kemasan sedikit, terus bagaimana jadinya,” keluh Mama Acel.

Menurut dia, pembeli minyak goreng di tokonya masih lebih banyak yang memilih minyak curah ketimbang minyak kemasan. Dalam satu hari, rata-rata dia dapat menjual sampai 10 galon minyak goreng curah.

Penjualan minyak curah masih stabil. Paling kalau ada kenaikan atau penurunan harga baru berpengaruh ke penjualan. Namun sekarang memang sedang mengalami kenaikan mungkin karena isu tersebut, awalnya per kilogramnya 10 ribu sekarang sudah sampai 12 sampai 13 ribu rupiah tapi masih lebih banyak yang beli minyak curah, dibandingkan dengan minyak kemasan tuturnya.

Pengusaha warung makan di Pobundayan Mama Aya’ mengaku lebih memilih menggunakan minyak goreng curah karena harganya relatif lebih murah dibandingkan minyak goreng kemasan. Selama masih ada di pasar dia menyatakan akan tetap memilih membeli minyak goreng curah. (rez/ryo)

Editor:
Tags
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional