Menu

Menyusun Anggaran Keluarga Tahun 2016

  Dibaca : 41 kali
Menyusun Anggaran Keluarga Tahun 2016

anggaran 2016

TOTABUAN.CO-“It’s time to quit and start again, only god knows what we’re celebrating” Kutipan lagu ‘New Year’s Eve’ yang dikumandangkan Kashmir layak direnungkan. Apakah kita sudah siap memasuki tahun baru dengan perencanaan keuangan yang lebih baik?. Seperti biasa, tahun baru dipenuhi harapan-harapan akan kehidupan yang lebih baik. Namun, semua itu hanya akan terwujud kalau disertai dengan perencanaan.

Perencanaan yang matang diperlukan untuk menyusun anggaran keluarga selama setahun. Setelah anggaran lama tutup buku, dapat ditentukan kebutuhan-kebutuhan keluarga di tahun berikutnya. Umumnya, pos-pos utama dalam anggaran keluarga tidak berbeda jauh setiap tahun. Kecuali, ada perkembangan yang signifikan dalam tahun yang akan dilewati.

Ada formulasi tetap yang biasa digunakan wealth manager, untuk menyusun perencanaan keluarga. Demikian diungkapkan Fendi Susanto, seorang perencana keuangan. Yang pertama kali harus diperhatikan adalah tujuan finansial keluarga yang jelas, seperti menyekolahkan anak atau membeli rumah. “Ini sangat spesifik dan harus teridentifikasi dari awal,” jelasnya. Setelah itu, baru menyusun, kira-kira apa yang harus dilakukan secara finansial untuk dapat mencapai tujuan tersebut.

Didasari hal tersebut, Ahmad Gozali, juga seorang perencana keuangan mengingatkan, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak terjadi di tahun lalu, tapi mungkin terjadi di tahun 2016. “Mungkin, biaya sekolah naik atau ada rencana untuk renovasi rumah,” jelasnya. Kemudian, lanjutnya, asumsi-asumsi makro tahun sekarang juga harus dilihat.

Gozali mengatakan, untuk menyiasati keadaan ekonomi yang mungkin belum terlalu membaik, sementara harga kebutuhan meningkat, kebutuhan bulanan harus dikurangi. Dana darurat atau cadangan untuk menutupi defisit anggaran bisa disiasati jika memang ada kebutuhan yang perlu dibeli tetapi tidak tercukupi dari penghasilan bulanan.

Fendi Susanto sependapat dengan Gozali. Menurutnya, disitulah letak manfaat dari saving, yaitu untuk menutupi biaya yang tidak terduga. Tapi, dengan catatan, jumlahnya yang dikurangi, bukan setorannya. Maksudnya, bila jumlah dana cadangan Rp 20 juta dan setoran tabungan per bulan Rp 1 juta, maka kekurangan dana anggaran dapat diambil dari Rp 20 juta tersebut. Tapi, tetap harus menabung Rp 1 juta setiap bulan. “Kalau setoran tabungan yang kita kurangi, akan merusak kebiasaan menabung yang sudah terbentuk” jelasnya.

Berapa besar sebaiknya setoran untuk tabungan? Menurut Ahmad Gozali, bagi mereka yang masih bujangan atau tinggal dengan orang tua, dapat menabung sampai 40% dari penghasilan yang diperoleh. Untuk mereka yang sudah menikah, tinggal di rumah sendiri, besarnya tabungan minimal 10%. Lebih dari 10% akan lebih baik. Nantinya, ujar Gozali, kalau karier sudah semakin bagus, katakanlah sudah usia 45 tahun atau mendekati pensiun, setoran tabungan bisa mencapai 50%.

Sedangkan menurut Fendi, besarnya tabungan setiap bulan harus disesuaikan dengan besarnya pengeluaran rutin bulanan. Katakanlah, pengeluaran rutin per bulan sebesar 30% dari total regular income. Maka, dana yang tersedia dalam bentuk saving, paling tidak tiga kali dari jumlah pengeluaran setiap bulan. “Dengan demikian, biaya tak terduga dapat ter-cover,” tandasnya.

Sumber:beritasatu.com

Editor:
Tags
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional