Menu

Sejarah Masjid “Ainul Yaqiin” Poyowa Besar

  Dibaca : 139 kali
Sejarah Masjid “Ainul Yaqiin” Poyowa Besar
Masjid Ainul Yaqin Poyowa Besar | totabuan.co

 

Masjid Ainul Yaqin Poyowa Besar | totabuan.co

Masjid Ainul Yaqin Poyowa Besar | totabuan.co

MASJID Ainul Yaqiin didirikan pada tahun 1961 oleh Bapak Hi. Umarudin Mamonto dan dibantu oleh tokoh-tokoh masyarakat seperti Usman Angkato, A.P Domu, Usman Yoyatan, L.B Mondo, T.M Makalalag, dan Djafar Mamonto.

Awalnya para penganut agama Islam Ahlulsunnah wal jama’ah yang ada di desa Poyowa Besar dalam mengerjakan sholat fardhu dan sunnah dilakukan di rumah Bapak Hi. Umarudin Mamonto dan terkadang sholat dilakukan di gudang kopra milik beliau. Karena jema’ah yang semakin bertambah dan fasilitas yang belum memadai, inilah yang menjadi salah satu motivasi dari bapak Hi. Umarudin Mamonto dan kawan-kawan untuk mendirikan mesjid agar selain dapat menampung kapasitas jama’ah yang lebih banyak juga dengan berdirinya mesjid jama’ah akan merasa lebih nyaman dan khusyu’. Sehingga dengan motivasi tersebut kelompok Bapak Hi. Umarudin Mamonto ini mengadakan arisan yaitu dengan mengumpulkan infaq sedekah bahkan mereka juga mengumpulkan  zakat mal berupa lumbung padi. Terkadang arisan ini dikumpul dikediaman bapak A.P Domu.

Hasil daripada lumbung padi ini mereka gunakan untuk mengolah kayu sendiri. Setelah pengelolaan kayu selesai dihutan, kayu-kayu tersebut dibawa ke desa dengan menggunakan tenaga manusia. Dengan usaha,kekompakan dan niat yang mulia, akhirnya pada tahun 1961 mereka membangun mesjid  yang   semi permanent. Dimesjid inilah jama’ah Ahlulsunnah wal jama’ah menunaikan sholat baik sholat fardhu maupun sholat sunnah. Pada bulan suci Ramadhan dimesjid ini melaksanakan sholat tarawih sebanyak 20 rakaat. Imam pertama yang ada dimesjid ini adalah Bapak Buseng Mandeng, Moko Mondo serta dibantu oleh bapak Hi. Umarudin Mamonto dan Bapak Bulow Yoyatan.

Pada masa pemerintahan kepala desa Hasan Angkara tahun 1981, mesjid ini direnovasi secara menyeluruh dengan bangunan permanent penuh. Setelah selesai dibangun, mesjid ini menjadi mesjid kampung. Pada bulan Ramadhan, ada 2 kelompook masyarakat yang melaksanakan sholat tarawih dimesjid ini. Ada kelompok yang melaksanakan sholat tarawih dengan 8 rakaat sedangkan kelompok yang lain melaksanakan sholat tarawih sebanyak 20 rakaat. Namun hal ini tidak pernah dipermasalahkan karena itu masalah turu’iyah bukan masalah akidah (masalah-masalah yang mendasar).

Setelah Poyowa Besar dimekarkan, otomatis mesjid ini berada di Poyowa Besar 2. Sampai saat ini para jama’ah tetap menganut paham ahlulsunnah waljamaah. Mesjid ini diberinama “Ainul Yaqiin” oleh Bapak Drs. Hi. Halil Domu, Msi Mantan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov Sulut.

Pada tanggal 19 Januari 1995 mesjid “Ainul Yaqiin” diresmikan oleh Bupati Kepala Daerah TKT II Bol-Mong Bapak Drs. Hi. S. Paputungan.

 

  1. Mazhab

Mazhab yang digunakan pada mesjid Ainul Yaqiin ini  adalah Mazhab safi’i.

Dimesjid ini pada masa-masa para pendiri mulai melaksanakan ibadah, pada remaja mesjid sebelum adzan isya mereka melakukan puji-pujian kepada Allah, Nabi Muhammad dan para Sahabat dalam bentuk yang dilakukan secara berbalas seperti pantun yang dikenal dengan salawat. Nuansa ini sangat kental pada bulan suci Ramadhan.

 

  1. Keterkaitan budaya setempat dengan budaya Islam

Budaya poyowa besar bersumber dari syariat agama Islam yang muaranya berasal dari Al-qur’an dan sunnah. Dilihat dari segi sejarah masuknya agama Islam di Bol-Mong, pada masa kerajaan yang pertama membawa agama Islam di bolmong adalah orang-orang dari bugis dan arab. Selain itu masuknya agama Islam juga berasal dari pengaruh para wali yang menyebarkan agama Islam dengan mengadopsi budaya-budaya dari timur tengah seperti lagu-lagu gamus yang dikenal dengan dana-dana yang sekarang ini sangat berkembang di desa poyowa besar. Kebudayaan dana-dana ini terpengaruh dari budaya timur tengah yang islami dan inilah budaya yang boleh dilestarikan di poyowa besar serta mendapat respon positif dari masyarakat. Selain lagu gamus (dana-dana)  budaya yang berkembang di poyowa besar juga ada kasidah dan hadrah.

Adapun budaya-budaya yang bertentangan dengan ajaran agama yang dianut oleh masyarakat poyowa besar yang 100% beragama Islam, itu otomatis akan di filter/disaring.

Pengirim: yuli.asfah@yahoo.co.id

 

CATATAN: Anda memiliki tulisan sejarah menyangkut apapun (sejarah desa, sejarah perjuangan, sejarah tempat dll) di wilayah Totabuan. Kirim di email: redaksitotabuan@gmail.com. Tulisan disertai foto objek. Nama dan nama lengkap penulis harus disertakan. 

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional